rEposisi.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Bandarlampung mengaku akan membahas ulang atau pikir ulang untuk menggelar aksi demo di Kantor DPW PAN Lampung.
Padahal sebelumnya, Ketua Cabang PMII Kota Bandarlampung, Dapid Novian Mastur, lantang akan menggelar aksi massa sekaligus menduduki Kantor DPW PAN Lampung agar aspirasi sampai ke Zulkifli Hasan yang saat ini menjabat Ketua Umum PAN. Zulhas dinilai, sebagai “biang kerok” anjloknya harga singkong, terutama di Lampung.
Pikir ulang untuk menggelar aksi demo di Kantor DPW PAN Lampung, dijelaskan, Alumni Fakultas Dakwah UIN ini, tak lepas segera dibahasnya lartas impor singkong oleh Kemendag-Kemenko Perekonomian.
“Persoalan aksi di Kantor PAN, kami akan membahas ulang persoalan itu, karena sudah keluar pers rilis dari Kementerian Perdangangan,” jelasnya, Sabtu (10/5).
Namun demikian, Dapit, memastikan bahwa PMII Cabang Kota Bandarlampung, akan tetap mengawal petani singkong di Lampung agar mendapatkan harga yang maksimal.
“Kami PC PMII Bandarlampung akan terus mengawal petani singkong di Lampung dan komitmen,” ujarnya.
Pernyataan Dapid ini langsung mendapat reaksi sekaligus bantahan dari kader PAN Lampung yang juga “orang dekat” Zulhas, Suprapto.
Suprapto, menilai terlalu tendensius jika Zulhas dianggap sebagai “buang kerok” atas anjloknya harga singkong.
“Aksi massa demo mendesak pemerintah menjaga harga singkong dalam batas normal agar petani tak dirugikan patut kita apresiasi dan support bersama. Tapi menjadi tidak produktif kalo kemudian dikembangkan isu tokoh Lampung yang kini Menko Pangan Bang Zul gak sejalan dengan Gubernur Iyai Mirza soal merespon harapan petani singkong. Mestinya kita warga Lampung kompak agar tokoh-tokoh kita yang di pemerintahan, di daerah atau pusat kompak bekerja membangun untuk Lampung maju,” kata Wakil Ketua DPW PAN Lampung, Suprapto, Jumat (9/5).
Aktivis 98 itu secara khusus mengaku prihatin atas pernyataan Ketua PMII Cabang Bandarlampung yang menuding Zulhas biang kerok anjloknya harga singkong di Lampung. Menurutnya Zulhas adalah tokoh yang getol membela kepentingan masyarakat Lampung.
“Zaman sekarang tinggal dilihat aja jejak digitalnya, bener apa cuma ngaku-ngaku. Orang luar saja bangga melihat kiprah Bang Zul untuk Indonesia dan Lampung, kita warga Lampung kok tega-teganya menuding tanpa dasar,• tegasnya.
Dikatakan, ternyata yang menentukan bisa nggak nya impor tepung tapioka itu bukan Mendag atau Menko Pangan, tapi Menteri Perekonomian. “Ternyata sekarang pemerintah tinggal nunggu momen. Sekarang lagi panas perang dagang, semoga tidak terlalu lama pemerintah menyetop impor tepung tapioka,” ujarnya.
Dia sependapat gerakan pembelaan kepada petani singkong terus harus digelorakan, tapi harus juga dijaga agar tidak ditunggangi kepentingan pragmatis kelompok tertentu atau segelintir orang. “Jangan sampai misalnya muncul penilaian PMII menyebut-nyebut PAN karna sekarang Menteri Desanya kader PAN, dan kader-kader PMII yang sekarang jadi pendamping desa merasa tidak aman,” ujarnya.
Ketua Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Lampung ini mengatakan sebagai intelektual muda, aktivis mahasiswa sebaiknya jika menyampaikan pendapat dilengkapi data. Selain itu, aspirasi juga yang konstruktif bukan malah kontra produktif atas tujuan yang akan dicapai. “Tidak saling menyalahkan tapi justru menawarkan alternatif alternatif solutif,” tukasnya.
Dia yakin bahwa seluruh elemen, mulai dari tokoh masyarakat, gubernur, DPRD, dan DPR asal Lampung, hingga Menteri tengah berupaya mencari solusi terbaik atas permasalahan ini.
“Mari kita saling mendukung, bukan saling menyalahkan. Koordinasi terus dilakukan untuk mencari jalan yang terbaik, khususnya soal singkong dan umumnya untuk mewujudkan Lampung maju,” tambahnya.
Senada juga disampaikan, Wakil Ketua DPW Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Lampung Naufal Caya. Mantan aktivis mahasiswa itu menyayangkan pernyataan yang mengadu domba sesama tokoh Lampung, yakni gubernur dan Zulkifli Hasan, selaku Menko Pangan RI.
“Justru Bang Zul menjadi garda terdepan mencari solusi demi terwujudnya swasembada pangan, terutama mengurai persoalan singkong di Lampung,” papar Naufal.
Naufal juga mendorong seluruh pihak dan tokoh-tokoh Lampung untuk bahu membahu memecahkan solusi polemik harga singkong di Lampung dan bukan justru saling menyalahkan satu sama lain.
Sebelumnya, PMII dalam aksi unjuk rasa menuding Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas anjloknya harga singkong di Lampung, yang menyebabkan kerugian besar bagi para petani. (win).









