add_action('wp_footer', function () { echo ''; }, 99);
Artikel Bicara Sejagaan pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>“BETE tahu di rumah melulu itu, dek! Sesekali keluar rumah kan nggak masalah sih? Lagian tetep pakai masker ini!” sahut Dinda dengan wajah mrengut.
“Ya memang nggak apa-apa sesekali keluar rumah, mbak! Kalau ada perlu-perlu bener! Kalau cuma mau ngider-ngider aja, ngangin sore-sore, ya nggak pas-lah! Baikan tetep di rumah!”
“Jadi adek nggak mau nih nemenin dan jagain mbak? Inget pesen buya; adek itu harus jagain mbak dan mama!” tukas Dinda.
“Justru adek nggak setuju mbak keluar rumah ini karena adek jagain mbak! Adek jalanin pesen buya! Jangan salah tanggep makanya! Dan sebenernya, dengan kondisi sekarang ini, yang ngewajibin kita beraktivitas apapun dari rumah, kita jadi lebih memaknai falsafah saling menjaga itu, mbak!” ujar Gilang.
“Maksudnya gimana, dek?!” tanya Dinda.
“Hikmah dari keputusan pemerintah buat motong gerakan sebaran virus COVID-19 yang ngewajibin kita semua berada di rumah, mengajarkan pada kita betapa pentingnya memahami hakekat sejagaan itu!”
“Ngomongnya yang saklek-saklek aja, dek! Nggak usah berfilsafat!” sela Dinda.
“Gini lo, mbak! Dengan kita terus bersatu di rumah, ngerjain apapun urusan dari rumah, ikatan batin sesama penghuni rumah makin kuat! Kita makin tahu karakter masing-masing! Makin paham dengan pola pikir masing-masing! Dan banyak lagi lainnya! Dan akhirnya tumbuh ikatan batin yang kuat untuk terus sejagaan ke depannya!” urai Gilang.
“Namanya orang serumah, apalagi kakak adek, ya pasti sejagaan-lah, dek! Itu sudah hukum alamnya!” kata Dinda.
“Nggak gitu juga kali, mbak! Kita sering denger cerita; kakak adek nggak akur! Nggak saling dukung, boro-boro sejagaan! Malahan saling potong dan ngejatuhin! Nurut adek, itu karena kurang kuatnya ikatan batin mereka! Walau dilahirkan dari ibu yang sama dan punya bapak yang sama!” tanggap Gilang.
“Jadi nurut adek, sejagaan itu lahirnya dari mana?!” tanya Dinda.
“Dari ketulusan hati, mbak! Dari penerimaan masing-masing yang nothing to lose! Bukan karena ikatan darah, otomatis bisa tumbuh komitmen sejagaan itu!” tutur Gilang.
“Tapi faktanya, yang dulu keliatan sejagaan, pas kondisi kita berubah, berubah pula mereka! Menjauh bahkan sok nggak kenal! Sejagaan apaan itu?!” ketus Dinda.
“Mbak jangan lupa, setiap situasi dan kondisi itu adalah ujian! Cobaan buat kita! Tangguh nggak kita ngadepinnya! Lulus nggak kita pada akhirnya! Gitu juga dengan sejagaan! Itu juga ujian! Kalau berubah dari perilaku sejagaan karena kondisi yang berubah, itu artinya ya hanya setipis itulah komitmennya! Kita bersyukur dengan dirumahkan kayak gini, karena banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik!” ujar Gilang.
“Kalau nurut mbak, yang bisa sejagaan itu ya yang punya ikatan darah dan orang-orang baik yang dipertemukan dengan kita dalam kondisi sama-sama terpuruk! Sama-sama senasib sepenanggungan! Kalau orang yang ngerubung saat kondisi kita sedang jaya, nggak bakal bisa sejagaan! Mereka-mereka itulah para pecundang! Dan orang yang kayak gini, lebih banyak keliaran! Sejagaan itu adalah jaga hati, jaga diri dan jaga orang-orang yang tulus menyayangi kita! Diluar itu, nggak usah dipikirin!” kata Dinda sambil memeluk Gilang dan mengajaknya memetik buah jambu di halaman belakang rumah. (*)
Tulisan Ini Sudah Disajikan Juga di HarianFokus.com
Artikel Bicara Sejagaan pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Tampil Sederhana Tapi Modis pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Tapi tenang, berikut beberapa trik yang dapat membantumu memiliki penampilan yang sederhana tapi tetap modis:
Artikel Tampil Sederhana Tapi Modis pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Reese Witherspoon Bagikan Pakaian Ke Seluruh Guru Di Amerika pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>BARU-baru ini, Reese Witherspoon meluncurkan sebuah inisiasi bernama ‘Draper James Loves Teachers’. Draper James adalah label fashion milik aktris pemenang Oscar itu yang diluncurkan pada 2015.
Artikel Reese Witherspoon Bagikan Pakaian Ke Seluruh Guru Di Amerika pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Solusi Pelaku Ekonomi Kreatif Ditengah Covid-19 pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>AGAR perekonomian industri lokal tetap berjalan, Unlock Fest memberikan solusi untuk menjembatani antara pelaku kreatif dan konsumen dengan menggelar bazar melalui media digital.
Managing Director & Partner Unlock Fest Ryo Hepriawan menuturkan intensitas pengguna digital saat #dirumahaja semakin tinggi. Maka kegiatan ini dapat menjadi peluang yang besar untuk terus menunjang penjualan bagi para pelaku kreatif pemilik brand agar dapat meningkatkan penjualan lebih baik.
Artikel Solusi Pelaku Ekonomi Kreatif Ditengah Covid-19 pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Jadi Model di Fashion Show, Aming Berbusana Motif Virus Corona Covid-19 pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Jadi Model di Fashion Show, Aming Berbusana Motif Virus Corona Covid-19 pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Tips Gunakan Sarung Agar Lebih Maksimal pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>BIASANYA sarung digunakan oleh kaum laki-laki walaupun ada kemungkinan wanita juga menggunakan sarung. Walaupun menggunakan sarung ternyata ada tips agar kamu memaksimalkan penampilan selama bulan Ramadhan.
Artikel Tips Gunakan Sarung Agar Lebih Maksimal pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel SUWUNG pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>
OLEH : Endri Y
KALAU kita menelisik kekuasaan Dinasti Qajar, sekitar 1779 sampai 1925, menemukan semacam bukti kegagalan sebuah pemerintahan.
Jauh, sebelum ada rumus “negara gagal”.
Kerajaan dan daerah kekuasaan Dinasti Qajar, terpecah-pecah dalam banyak suku, etnis, dan tak pernah berhasil membuat organisasi militer serta birokrasi yang efektif serta kuat.
Di bawah Dinasti Qajar, negara membusuk, salah kelola, tidak amanat dan dipimpin orang-orang tanpa kecakapan.
Bahkan dengan kebijakan yang otoriter dan tirani sekali pun, kualitas pemimpin terlihat seperti dalam panggung drama. Hanya dianggap lelucon. Rakyat mulai merasakan berdiri di jurang kehancuran. Dicekam keputusasaan. Keamanan dan proteksi terhadap lapangan kerja, harta, dan nyawa, diperjuangkan masyarakat sendiri, tanpa kehadiran pemerintah.
Adalah Raja Fath Ali Syah, berkuasa sejak 1779-1834. Dia dianggap, memerintah dengan sangat buruk, bahkan tercatat, tak memenuhi syarat sebagai sebuah kerajaan patrimonial.
Dia juga dianggap memerintah seperti di daerah dengan properti yang disewa. Tanpa tanggung jawab dan kecintaan sama sekali. Tanpa kecakapan dan kemampuan. Tanpa rasa malu dan semakin hari semakin menunjukkan, seperti orang yang bingung. Tak berpendirian dan kosong. Suwung.
BACA JUGA :
https://www.reposisi.com/style/nestapa-sang-amnesia/
Negara dengan wilayah kekuasaan yang luas, akibat lemah dan tidak cakap dalam kepemimpinan oleh Dinasti Qajar, membuat kerajaan itu terlupakan. Hilang dalam ingatan, tenggelam oleh sejarah dan kekalahan-kekalahan.
Pelajaran penting dari Dinasti Qajar, jangan pernah main-main mengambil jabatan dan kesiapan mengurus urusan publik jika tak punya kemampuan memimpin. Selain membuat aib dan sejarah kelam, juga menyengsarakan rakyat.
Lebih buruk lagi, tampil memimpin tapi ketika hadir di ruang publik, terlihat suwung. (*)
Artikel SUWUNG pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Nestapa Sang Amnesia pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Pria bernama Bono itu baru beranjak dari sudut halaman saat mentari makin meninggi. Sorotnya makin panas. Saat badannya yang gempal mulai dibasahi keringat. Saat perutnya sudah keruyukan. Kepengen sarapan.
Ia berjalan. Perlahan. Menuju kamarnya. Sebuah ruangan sel di rumah tahanan. Sudah 7 bulan Bono tinggal disini. Selepas ia didakwa menyalahgunakan penggunaan anggaran alokasi dana desa alias ADD saat ia menjabat bendahara di desanya, di Lampung Tengah. Ia tak sendiri. Sang kepala desa juga ikut dibui.
Sesampai di kamar, Bono buru-buru mengambil piring. Menyendok nasi cadong berlaukkan sepotong ikan asin kecil. Dilahapnya makanan khas penjara dengan santainya. Seakan rasanya amat gurih layaknya makan di rumah makan padang.
Selepas mencuci piring yang dipakainya, Bono membuka locker tempat pakaian. Dikeluarkannya sebuah dompet kecil. Berisi obat-obat pribadinya. Tiga butir obat langsung ditelannya. Tiga kali sehari ia harus minum obatnya. Yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter.
Bono mengidap amnesia. Penyakit lupa ingatan. Yang menyerangnya jauh sebelum ia dipenjara. Dokter spesialis di Kota Metro yang dulu rutin dikunjungi meneguhkan keseriusan penyakit Bono.
BACA JUGA :https://www.reposisi.com/style/era-of-nadir-syah/
Saat aparat Polres Lampung Tengah mulai menyidik kasus dugaan penyimpangan penggunaan ADD, sebenarnya, tahu persis bila Bono mengidap amnesia. Pembawaan Bono dan surat keterangan dokter adalah faktanya. Bahkan, untuk melancarkan berita acara pemeriksaan pun, bukan Bono yang bercerita. Tapi istrinya. Itu pun sering dilakukan di rumah pribadi Bono. Bukan di kantor polisi sebagaimana mestinya.
Dalam penyidikan, sebenarnya, Bono bisa tunjukkan beragam barang yang dibelinya melalui dana ADD. Hanya, ia tak bisa menyerahkan kuitansi sebagai bukti pembeliannya.
“Embuh neng ngendi. Aku lali,” ucap Bono bila ditanya kuitansi pembelian barang-barang yang menggunakan dana ADD. Jawaban yang khas dari pengidap amnesia.
Namun polisi tak peduli. Penyakit lupa yang diidap Bono dinafikkan. Kasusnya terus berjalan. Sampai disidangkan.
Dalam persidangan, berkali-kali majelis hakim dan jaksa kebingungan. Karena Bono banyak tidak ingat. Bahkan ia lupa menulis dan membaca. Ironisnya, sang pengadil juga tak berinisiatif mendatangkan dokter spesialis; yang berkeahlian untuk menyimpulkan amnesia jenis apa yang diidap Bono.
Walhasil, palu hukuman pun diketukkan bagi sang amnesia. Total ia dijatuhi hukuman 26 bulan.
Saat ini, baru sembilan bulan Bono menjalani hukumannya. Masih 17 bulan lagi ia mesti menjalani hukumannya. Karena kasus yang menjeratnya masuk kriteria tindak pidana korupsi, yang tak mendapatkan remisi apalagi asimilasi.
Bono tetap tabah menjalani takdirnya. Meski ia masih didera penyakit amnesia. Yang membuatnya masih bisa tertawa adalah tenggang rasa kawan-kawan satu kamarnya. Selebihnya acapkali ia mengucap doa: “Mbok menowo metu soko penjoro mengko, iso ilang penyakitku!” (*)
Penulis : Dalem Tehang
Tulisan ini sudah pernah terbit di IniLampung.com
Artikel Nestapa Sang Amnesia pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>Artikel Era of Nadir Syah pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>PERIODE itu, kekuasaan dan prinsip legitimiasi suku-suku, mulai berbentuk dewan. Dinasti Safawi yang syiah, ditinggalkan rakyat karena dianggap banyak berprilaku amoral dan melakukan yang munkar. Keluarga istana menjadi pemicu runtuhnya otoritas politik, dan kemudian, pasca hancurnya kuasa dinasti, segera menyusul negara ikut porak-poranda, menuju perpecahan dan kehancuran.
Nadir Syah atawa Nadir Bey? Bagi kita, pecinta sinetron tentu akan menarik. Jika gambaran Nadir Syah, disebut rambut merah. Nadir Bey, lelaki tua yang kial, bisu, dan semua rambut serta janggutnya, putih.
Perspektif yang sama, saat saya melihat film “13 Assassins”. Yang menggambarkan, Shogun jahat. Berlatih memanah dengan sasaran para pembantunya, satu keluarga, anak-anak kecil juga, mati jadi korban. Sasaran untuk bidikan anak panah, langsung manusia. Yang mati, kepalanya ditendang-tendang, menggelinding serupa bola.
Pejabat yang berdiri, pipis di mangkok yang dipegangi seorang pembantu, jongkok di bawah, menahan nafas dan tetap tertunduk. Kalau dia memperkosa perempuan desa, prajurit menjaga dengan membentangkan kain sebagai tirai.
Jalannya penguasa jahat itu melenggang dan enteng-enteng saja saat berkata. Leher orang desa, seperti kera. Keras. Harus dilenturkan dengan sering dipenggal menggunakan pedang. Agar tahu aturan dan tahu batasan. Samurai harus berani memotong leher warga. Budak tak boleh mendongak di hadapan kaum bangsawan.
Harus bersimpuh, tertunduk. Atau dipenggal. Samurai harus menjaga kehormatan dengan melayani tuan. Tanpa batasan, tanpa penyangkalan.
Namun demikian, potret kekejaman penguasa yang semena-mena, di daratan dan peradaban bangsa mana pun, pasti mendapat perlawanan. Kebanyakan tirani, pasti berakhir tragis. Kebanyakan penguasa kejam, mendapat pemberontakan dan berakhir dengan kemalangan.
Pemerintahan sebuah negara pasti melekat pada diri pribadi sang pemimpinnya. Kepribadian seorang pemimpin, apalagi kepala negara, tak boleh terlihat lemah. Juga dilarang terlihat kejam. Kalau lemah, dihantui ketakutan bahkan oleh anak sulungnya, akan dibunuh dan dibantai anak buahnya. Tragis seperti akhir hayat Nadir Syah. Ketika kejam, akan dipenggal di tengah jalan, seperti Matsudaira Naritsugu.
Akan tetapi, itu juga bukan legitimasi dan pembenaran atas ironi akhir semua kekuasaan. Rezim suatu era bukan dinilai bagaimana catatan jatuh atau terbunuh. Yaitu, apa yang sudah dikerjakan ketika memimpin. Lemah atau kejam. Sebab, ada pemimpin baik yang dipenggal di tengah jalan atau dikhianati para pembantunya.
Semua hanya soal pilihan sikap saja.
Salah satu kutipan kalimat menarik, saat ini, zaman ketika Presiden Amerika menyebut Virus Cina guna menyebut Covid-19 yang telah mengguncang dunia yakni, meme dari “Preman Pensiun”. Yang terkenal itu. Ya. Semua akan luhut pada waktunya.
Padahal, tak ada dalam sejarah, pemain utama terlihat dan dikenal secara publik. Sejahat-jahatnya Marco, Samuel, Jorris, atau Garo, dikenal luas karena jahat itu hakekatnya, hanya anjing penjaga “Sang Tuan” yang pasti bersembunyi, tak dikenali. Apalagi terpublis dan bisa diekspos secara luas.
Sama kiranya dengan zaman, ketika Nadir Syah mulai naik daun sebagai komandan prajurit yang mengalahkan Ghilzaiy Afghanistan.
Rambut Merah itu, hanya pelayan dan sepenuhnya dikendalikan Tahmasp II.(*)
Penulis : Endri Y
Artikel Era of Nadir Syah pertama kali tampil pada Reposisi Media.
]]>